PERBUATAN MERUGI DIMATA ALLAH SWT

PERBUATAN  YANG MERUGI DIMATA ALLAH 

Gambar 

Oleh : Drs. Ahmad  Yani

  

“  Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” , Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Surat 18 Al-Kahfi ayat 22 ) 

 Kata Rugi  menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti tidak mendapat laba, tidak mendapat faedah  atau manfaat, tidak mendapat sesuatu yang berguna  atau  mudarat,

 jadi   merugi adalah   kedaan  menanggung kerugian, baik berupa barang, tenaga, waktu  dalam hal ini  berupa perbuatan atau amalan .

Perbuatan atau amalan yang merugi menurut Allah SWT dalam Sur at  Al-Kahfi ayat 105 : 

“ Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia[896], maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat “ (QS 18. Al-Kahfi ayat 105)

[896]. Maksudnya: tidak beriman kepada pembangkitan di hari kiamat, hisab dan pembalasa

Perbuatan merugi berupa :

  1. Kufur  terhadap ayat-ayat Allah, maksudnya  perbuatan yang mencerminkan tidak beriman,  tidak  percaya dan tidak menjalankan bahkan menentang terhadap Kekuasaan Allah, peraturan  serta larangan Allah
  2. Kufur terhadap Perjumpaan dengan Allah, maksudnya perbuatan atau amaliyah mencerminkan tidak beriman terhadap  hari kebangkitan, hari kiamat,hisab dan pembalasan.

Perbuatan atau amaliyah sudah barang tentu dibarengi dengan perbuatan hati yang hanya diketahui oleh dirinya dan Allah saja, nah hati inilah yang menjadi kunci. Oleh sebab itu segala amaliyah atau perbuatan baik menurut kita tetapi belum tentu baik dimata Allah, Jadi diri kita tidak bisa menjamin bahwa perbuatan atau amaliyah yang baik belum tentu baik dimata Allah dan diterima sebagai amal sholeh oleh sebab itu setelah kita mengerjakan perbuatan baik sekaligus mohon kepadaNya untuk diterima sebagai amal ibadah.

Untuk mengahiri pembahasan ini Satu kesimpulan adalah  :

 “ TERBAIK  MENURUT  MANUSIA BELUM TENTU TERBAIK   DIMATA ALLAH “

 

  • Materi disampaikan pada Pembinaan dan Penyuluhan Agama Islam di Kabupaten Klungkung-Bali

 

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

LARANGAN TERGESA-GESA DALAM BERIBADAH SEBUAH HIKMAH

Larangan Tergesa-Gesa Dalam Beribadah

Sebuah Hikmah

GambarOleh : Drs. Ahmad Yani

” Jika kalian mendatangi shalat hendaklah kalian (berjalan dengan) tenang. Ikutilah raka’at yang dapat kalian ikuti dan sempurnakanlah raka’at yang tertinggal.”

 (HR Bukhari Muslim).

 

Ketenang dan kekhusu’an  dalam menjalankan ibadah sholat sangatlah diperlukan untuk meningkatkan kwalitas sholat kita, namun banyak terjadi ketika imam  bertakbir atau hampir selesai membaca ayat maka banyak para masbukin tergesa-gesa supaya tidak ketinggalan rakaat shalat, ketergesaan itulah pernah di alami para jamaah pada masa nabi : 

Suatu hari, saat  Rasulullah SAW shalat, beliau mendengar suara gaduh di belakang. Seusai shalat Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, apa gerangan yang telah terjadi, sehingga terdengar suara gaduh pada saat shalat? Para sahabat menjawab: “Kami tergesa-gesa mendatangi shalat”. Rasulullah SAW kemudian bersabda:

” Jika kalian mendatangi shalat hendaklah kalian (berjalan dengan) tenang. Ikutilah raka’at yang dapat kalian ikuti dan sempurnakanlah raka’at yang tertinggal.” (HR Bukhari Muslim).

Tergesa-gesa adalah kondisi psikologis seseorang yang secara emosional ingin cepat-cepat melakukan sesuatu, kosong dari pertimbangan fikiran. Karena tanpa pertimbangan terlebih dahulu, maka aktivitas yang dilakukannya juga tidak produktif.
Apa yang terjadi dengan beberapa sahabat Rasulullah SAW seperti dalam kisah di atas juga menggambarkan, bahwa bila shalat dilakukan dengan tidak tenang dan terburu-buru akan merefleksikan shalat yang tidak khusyu’. Shalat tidak khusyu’ tentunya bukanlah shalat yang produktif, karena tidak menghasilkan pahala, kecuali hanya capek semata.
Yang dimaksud tergesa-gesa dalam hadis tersebut di atas adalah tergesa-gesa mendatangi shalat, bukan bersegera mendirikan shalat. Bersegera mendatangi shalat justru dianjurkan karena shalat yang utama adalah “al-shalat ‘alaa waqtiha” (shalat pada (awal) waktunya). Yang dimaksud bersegera mendirikan shalat adalah, ketika mendengar adzan, segala aktivitas ditinggalkan dan tanpa menunda-nunda segera mendatangi masjid. Berbeda dengan tergesa-gesa seperti tersebut dalam hadis tersebut di atas, tergesa-gesa di sini maksudnya, ketika mendatangi tempat shalat, ia berjalan terburu-buru dengan kondisi emosionalnya bergolak. Maka yang shahih adalah, ketika mendengar adzan segeralah tinggalkan aktivitas, ambil air wudlu berjalanlah ke tempat shalat dengan tenang jangan berlari-lari, menata hati karena akan bertemu dangan Allah.
Larangan tergesa-gesa ini merupakan aturan Islam yang mengandung hikmah dan nilai-nilai luar biasa. Orang tergesa-gesa biasanya tidak bisa mengontrol emosi dan pikirannya. Bahkan terkadang pikiran itu kosong dan emosinya dibiarkan mengeplong. Jika pikiran dan hati kosong, maka itu akan menjadi tempat kesukaan syaitan. Sehingga benarlah sabda Rasulullah SAW diatas :

“Ketenangan itu dari Allah dan tergesa-gesa itu dari syaitan” (HR. Turmudzi dalam Sunan Turmudzi Bab Maa Jaa fii al-Ta’anni wa al-’Ajalah hadis no. 1935 juga terdapat dalam al-Muntaqa syarh Muwattha’ Malik).
Imam al-Manawiy dalam Syarh al-Jami’ al-Shaghir menjelaskan, bahwa tergesa-gesa dilarang karena hal itu akan mendatangkan was-was. Ketergesa-gesahan menghalangi keteguhan dan pemikiran matang. Al-Manawiy menambahkan bahwa tergesa-gesa itu sebenarnya adalah trik syaitan untuk menggoda manusia agar menjadi orang yang ragu dan kosong pikirannya.
Imam Hasan al-Bashri mengatakan:

Setiap shalat yang hatinya tidak hudlur maka shalat itu lebih cepat mengundang siksa”. Ketergesa-gesahan inilah yang menyebabkan hati tidak bisa hudlur. Amru bin ‘Ash mengatakan tergesa-gesa yang dilarang adalah terburu-buru pada sesuatu selain keta’atan tanpa ada rasa khouf pada Allah.Agar shalat bisa khusyuk dan khudlu’,  al-Sayyid Abu Bakar al-Makki memberi tips, jika Anda hendak shalat, maka jangan lupa bahwa Allah melihat kepada hatimu, mengamati kamu dan sesungguhnya Dia hadir untuk menyaksikan kamu.Imam Abdullah al-Haddad menambahkan, jika engkau tidak bisa khusyu’ maka buatlah suasana dirimu dalam shalat, seolah-olah engkau shalat pada saat itu untuk terakhir kalinya, di belakangmu sudah menuggu malaikat maut yang akan menjemputmu menuju kehadirat-Nya. Suasana diri dan hati inilah yang barangkali dimiliki para sahabat, sehingga mereka ketika shalat begitu tenangnya berdiri sehingga kepalanya dihinggapi burung, dianggapnya sebuah tiang karena begitu tenangnya. Sayyidina Ali r.a lebih luar biasa, pernah suatu kali, kaki beliau terkena panah ketika perang. Ali menyuruh para sahabat mencabut panahnya saat dia shalat, agar kata, Sayyidina Ali, tidak merasa sakit. Begitu nikmatnya para salaf shalih kita berdekatan dan berkomunikasi dengan Allah sehingga anak panah yang dicabut dari tubuhnya pun tak terasa. Inilah hikmah jika kita tidak terburu-buru melakukan ibadah.Di antara hikmahnya juga adalah membentuk karakter mukmin yang bijaksana. Hadis-hadis dan petuah para salafus shalih kita di atas secara lebih luas dapat dipahami sebagai pendidikan karakter untuk menjadi insan yang bijaksana (wisdom). Orang yang tidak bijaksana biasanya gagal mempertimbangkan hal-hal terselubung ini dan abai mempertimbangkan pro-kontra sebelum membuat keputusan atau mewujudkan suatu gagasan. Keteledoran sering mendatangkan akibat yang tidak diharapkan dan tak terduga.

Dengan memegangi prinsip Amru bin ‘Ash seperti di atas,  kita bisa menyimpulkan berarti ada ketergesa yang positif. Tentunya tergesa-gesa yang positif ini bukan berarti tanpa pikiran matang dan terkesan emosional. Jika ada embel-embel positif berarti makna itu sebenarnya sama dengan bersegera. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW tergesa-gesa itu sifat tercela kecuali pada lima tempat. “Tergesa-gesa itu berasal dari syaitan, kecuali pada lima tempat, karena sesungguhnya tergesa-gesa dalam hal itu termasuk sunnah Rasulullah SAW. yaitu: Memberi makan kepada tamu, jika menginap. Mengurus jenazah orang yang sudah meninggal. Mengawinkan anak perempuan jika sudah baligh. Membayar hutang jika telah jatuh tempo pembayarannya. Dan bertaubat dari dosa jika terlanjur mengerjakannya.” Ketergesa-gesahan dalam lima perkara ini sebenarnya bukanlah ketergesa-gesahan, akan tetapi pensegerahan untuk cepat dilakukan dengan pemikiran yang jernih dan matang terlebih dahulu.Kesimpulan yang bisa diambil adalah, bahwa dalam melakukan sesuatu aktifitas apaun kegiatan itu, seorang muslim harus memiliki pertimbangan matang agar tidak menyesal di belakang. Sifat sabar, dalam hal ini berperang penting mengontrol emosi yang tergesa-gesa. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua sifat yang dicintai oleh Allah, yaitu sabar dan tidak tergesa-gesa.” (HR. Bukhari).

Orang sabar dicintai Allah, orang yang tenang akan disayang Allah!, oleh sebab itu  Hiasilah jiwa denang sabar, tutupi jasadmu dengan takwa.

  • Materi disampaikan pada pembinaan dan penyuluhan Agama Islam di Kabupaten Klungkung
Posted in Uncategorized | Leave a comment

BERIBADAH LEWAT MAKANAN

BERIBADAH LEWAT MAKANAN

Oleh :  Ahmad Yani

 

“ Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu “. (Qs. Al-Baqaroh 168)

Perintah Allah diatas ditujukan kepada manusia secara keseluruhan untuk memakan makanan yang halal dan baik dalam bahasa Al-Qur’an “ Halalan Thoyyibah “, perintah ini untuk kemaslahatan manusia itu sendiri , ini berkaitan dengan tugas manusia sebagai Khalifah fil Ardi atau pemimpin di bumi yang memerlukan fisik dan tenaga yang kuat,  itu semua berasal atau bersumber dari makanan yang dikonsumsi oleh manusia,  salah memilih akan berakibat fatal  pada seluruh badan dan jiwa manusia, oleh sebab itulah secara detil Allah memberikan pedoman dan pelajaran bagi manusia  tentang pentingnya memilih makanan yang thoyyib dan sumber mendapatkanya juga baik.

Dalam kehidupan  kita  sehari-hari  banyak makanan yang kita konsumsi  tidak diketahui  kadar dan kandungan,  apakah membahayakan atau memberi  manfaat bagi tubuh kita, yang jelas apa yang diiklankan  “baik” , belum tentu berarti  baik,  padahal dengan mengkonsumsi akan membawa akibat dikemudian hari, Zat yang membahayakan sering tidak diindahkan, bahan yang digunakan apakah segar atau sudah kadaluarsa tidak kita ketahui dan pengolahanya apakah sudah Hygenis ini juga kita tidak melihat, dan baru terasa dikemudian hari ketika terjadi gangguan kesehatan, ini kalau kita berbicara masalah kebaikan atau Kethoyyiban dari makanan tersebut, belum dari aspek “ halal”  yaitu dibolehkan dan tidak dilarang sedang lawanya “Haram”  yaitu dilarang , itu semua bersumber dari syari’at atau aturan-aturan Allah dan rasulnya diantaranya  Dalam Surat Al-Maidah 173 :

 

“ Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah[108]. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs.al-Maidah 173).

Karena begitu pentingnya persoalan pemilihan makanan ini , Allah SWT Menamai  satu surat dalam Al-Qur’an dengan nama  Hidangan (Al-Maidah).

Begitu selektifnya dalam pemilihan dan mengkosumsi makanan ,ini  memberikan pelajaran bagi manusia untuk selalu mengkritisi  apa yang dimakan sebagaimana perintah Allah dalam Surat Al-Baqaroh ayat 168 diatas, sekaligus juga dengan menjalankan kekritisan tersebut  berarti menjalankan perintah Allah  inilah yang dinamakan Ibadah.

Menjalankan ibadah dengan pemilihan makanan akan memberikan  tantangan untuk mengetahui  segala jenis makanan yang bermanfaat bagi tubuh kita juga yang tidak bermanfaat sekaligus mencari hikmah dibalik makanan yang dilarang dan dibolehkan oleh Allah SWT, inilah Aspek Tarbiyah atau pengajaran Allah kepada manusia.

Diera Globalisasi ini salah satu cara untuk mengetahui bahan makanan atau makanan dalam kemasan adalah dengan melihat label halal yang dikeluarkan Oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan tanda logo MUI berwarna hijau dalam setiap kemasan, sedankan untuk warung atau restoran dengan Sertifikat Jaminan halal yang dipasang pada papan nama warung atau restoran,  untuk mengetahui  secara detil produk Makanan, warung atau restoran yang sudah mendapatkan kehalalan,  lewat  informasi media Internet LPPOM-MUI,  Jaminan Halal ini sudah barang tentu memudahkan kita untuk menjalankan ibadah  lewat makanan sekaligus juga menjamin kebaikan atau Kethoyyiban bagi tubuh kita.

Bagi pengusaha baik produsen makanan, warung, restoran serta yang bergerak dibidang makanan dan minuman  akan Mendapatkan nilai ibadah didalam menjalankan usahanya apabila menjamin prodaknya Halal kepada konsumen, hal ini sudah barang tentu akan meningkatkan omzet penjualan secara dunia sedangkan ukhrowi mendapat nilai ibadah yang ganda diantaranya : Memilih bahan olahan sesui dengan perintah Allah ini nilai ibadah, menjamin berarti memberikan ketenangan pada konsumen ini nilai ibadah, Membantu konsumen Menjalankan ibadah lewat makanan ini nilai ibadah pula, jadi pengusaha mendapatkan untung yang berlipat, inilah bisnis dunia ahirat.

 

Wallahu a’lam bissawab.

 

Klungkung, 10 April 2012

 

COVER

COVER

Aside | Posted on by | Leave a comment

HALAL IS MY LIVE STYLE

HALAL IS MY LIVE STYLE

Oleh : Drs. Ahmad Yani

Gaya hidup atau live style merupakan bagian dari kehidupan manusia didalam menjalan kehidupanya sehari-hari, dan mendasari dalam setiap prilaku kehidupanya sekaligus menatap masa depanya, ada gaya hidup berfoya-foya atau hedonis, gaya hidup hanya pada benda atau materealis, ada gaya hidup cari selamat atau Fragmatis ada juga gaya hidup Agamis atau Religius dan masih banyak lagi. Gaya hidup dapat kita kenal dari pandangan hidup dan prilaku keseharian seseorang oleh sebab itu kita disuruh slalu bertaaru’f untuk saling kenal mengenal hal ini diperintahkan oleh Allah SWT dalam firmanya surat Al Hujurat ayat 13 :

“ Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal “. (Al-Hujurat ayat 13)

“ halal” yaitu dibolehkan dan tidak dilarang sedang lawanya “Haram” yaitu dilarang , itu semua bersumber dari syari’at atau aturan-aturan Allah dan rasulnya, adapun gaya hidup halal adalah gaya hidup yang didasari atas Menjalankan perintah Allah dan menjauhi apa yang dilarang, artinya menjalankan apa-apa yang dibolehkan dan menjauhi apa-apa yang dilarang oleh Allah.
Gaya hidup halal sudah barang tentu menjamin kehidupan yang baik atau Thoyyib dalam seluruh aspek kehidupan, lebih realnya Allah SWT memberikan contoh kehidupan binatang lebah sebagaimana di tertulis dalam Al-Qur”an Surat An-Nahl Ayat : 68-69 :
“ Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”, (An-Nahl ayat 68)
“Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang Telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan “. (An-Nahl ayat 69)
Ayat diatas dengan jelas memberikan gambaran bagaimana seekor lebah dalam memilih makanan, kemudian dalam mencarinya tidak merusak bunga atau buah-buahan dan kemudian hasil yang dimakannya bermanfaat bagi kehidupan yaitu madu yang keluar dari perut lebah dan masih banyak lagi hikmah didalamnya, contoh keteladanan ini diambil dari seekor hewan yang merupakan hamba Allah yang tidak mempunyai akal, ini berarti dari siapapun bahkan dari seekor binatangpun kita harus belajar, jadi tidak ada alasan untuk menyombongkan diri, itulah salah satu cara Allah Mendidik manusia, sebab itulah Tadabbur alam sangat diperlukan bagi manusia dalam mencari dan menambah ilmu, karena ayat-ayat Allah SWT terdapat diseluruh alam ini, ini juga salah satu prilaku dari gaya hidup Halal.
Salah satu gaya hidup halal yaitu tercermin dalam pemilhan makanan dimana dalam kehidupan kita sehari-hari banyak makanan yang kita konsumsi tidak diketahui kadar dan kandungan, apakah membahayakan atau memberi manfaat bagi tubuh kita, yang jelas apa yang diiklankan “baik” , belum tentu berarti baik, padahal dengan mengkonsumsi akan membawa akibat dikemudian hari, Zat yang membahayakan sering tidak diindahkan, bahan yang digunakan apakah segar atau sudah kadaluarsa tidak kita ketahui dan pengolahanya apakah sudah Hygenis ini juga kita tidak melihat, dan baru terasa dikemudian hari ketika terjadi gangguan kesehatan, ini kalau kita berbicara masalah kebaikan atau Kethoyyiban dari makanan tersebut, belum dari aspek “ halal” yaitu dibolehkan dan tidak dilarang sedang lawanya “Haram” yaitu dilarang , itu semua bersumber dari syari’at atau aturan-aturan Allah dan rasulnya diantaranya Dalam Surat Al-Maidah 173 :

“ Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah[108]. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs.al-Maidah 173).
Karena begitu pentingnya persoalan pemilihan makanan ini , Allah SWT Menamai satu surat dalam Al-Qur’an dengan nama Hidangan (Al-Maidah).
Begitu selektifnya dalam pemilihan dan mengkosumsi makanan ,ini memberikan pelajaran bagi manusia untuk selalu mengkritisi apa yang dimakan sebagaimana perintah Allah dalam Surat Al-Baqaroh ayat 168 (Halalan thoyyiban), sekaligus juga dengan menjalankan kekritisan tersebut berarti menjalankan perintah Allah inilah yang dinamakan Ibadah.
Menjalankan pemilihan makanan akan memberikan tantangan untuk mengetahui segala jenis makanan yang bermanfaat bagi tubuh kita juga yang tidak bermanfaat sekaligus mencari hikmah dibalik makanan yang dilarang dan dibolehkan oleh Allah SWT, inilah Aspek Tarbiyah atau pengajaran Allah kepada manusia.
Diera Globalisasi ini salah satu cara untuk mengetahui bahan makanan atau makanan dalam kemasan adalah dengan melihat label halal yang dikeluarkan Oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan tanda logo MUI berwarna hijau dalam setiap kemasan, sedankan untuk warung atau restoran dengan Sertifikat Jaminan halal yang dipasang pada papan nama warung atau restoran, untuk mengetahui secara detil produk Makanan, warung atau restoran yang sudah mendapatkan kehalalan, lewat informasi media Internet LPPOM-MUI, Jaminan Halal ini sudah barang tentu memudahkan kita untuk menjalankan ibadah lewat makanan sekaligus juga menjamin kebaikan atau Kethoyyiban bagi tubuh kita.
Ahirnya marilah kita amalkan gaya hidup Halal ini sudah barang tentu dengan standar sang pencipta manusia (Allah SWT) sehingga hidup kita selamat dunia ahirat, ROBBANA ATINA FIDDUN YA HASANAH Wafil Ahiroti Hasanah Wakina Aza Bannar.

Klungkung, 12 April 2012

Aside | Posted on by | Leave a comment

AMALAN PENGANTIN BARU

AMALAN PENGANTIN BARU

                                                        Oleh : Drs. Ahmad Yani

          (Tips dari Tuan Guru H. Hamidin pada Tuan Guru Bajang Makmun di pagi hari)

1. Ucapkan Salam
2. Letakkan Tangan di kening Istri
3. Baca do’a:

اللّهمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ

 مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

 

         ” Allahumma inni asaluka min khoirima fii ha wasarrima jabataltaha  alaihi “

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dari kebaikannya (istri) dan kebaikan tabiatnya, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan tabiatnya.”

[HR. Bukhari dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al Ash radhiyallaahu ‘anhu].

4. Sholat sunnat dua rakaat
5. Memakai Wangi-wangian
6. Berdo’a :

 

بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

” Allahumma Jannibisyaithona wa jannabi syaithona ma rojaktana …”

Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari syaithan dan jauhkanlah syaithan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami.”[HR. Al-Bukhari dan Muslim)

 

             dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallaahu ‘anhu]. Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa seandainya Allah mengkaruniakan anak, maka syaithan tidak akan bisa memudharati anak tersebut. Al Qadhi menjelaskan maksudnya adalah syaithan tidak akan bias mearsukinya. Sebagaimana dinukilkan dari Al Minhaj.

 

      7. Setelah tersalur  hajat  maka lakukan Mandi Besar (Junub)

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment